![]() |
| Gambar 1. Kampung Bagusa pada Tahun 2012 (Tampak Kapal Marthen Indey) |
Penulis mencoba mengangkat tulisan ini menjadi sebuah artikel bebas, dengan judul : “Kilas balik wajah Kampung Bagusa dan Teba, (6 Tahun Lalu dan Kondisi Terkini). Tulisan ini tidak merepresentasikan seluruh wilayah Kabupaten Mamberamo Raya, namun uraian dalam tulisan ini adalah pengalaman dan pengamatan penulis sejak melakukan penelitian pada tahun 2012 di sepanjang wilayah Mamberamo Hilir, terlebih khusus di beberapa Kampung pada sepanjang aliran sungai Mamberamo pada bagian hilir yaitu Teba, Bagusa dan Trimuris. Pada tahun 2012, penulis bersama tim peneliti Unipa melaksanakan kegiatan penelitian dengan topic Penyusunan Data Base Pembangunan Pertanian Kabupaten Mamberamo Raya. Tim ini diketuai oleh Dr. Meky Sagrim, SP., M.Si, dan pada tahun 2018, kami kembali melakukan kajian dengan topic yang berbeda, namun masih berkaitan dengan pengembangan komoditi pertanian.
Wilayah aliran sungai Mamberamo membentang dari daerah Hulu sampai hilir, jika dilihat dari wilayah Administrasi, maka aliran Sungai Memberamo melintasi beberapa distrik mulai dari hulu yaitu distrik Mamberamo Hulu, distrik Mamberamo Tengah hingga Distrik Mamberamo Hilir.
Pada Tahun 2012, hanya terdapat 1 kapal perintis yang beroperasi di wilayah Mamberamo Raya dan dapat digunakan oleh masyarakat sebagai moda Transportasi laut dan sungai yaitu KM Marthen Indey. Selain kapal Marthen Indey, jenis alat transportasi lain yang sering digunakan adalah speed boat dengan mesin engine yang bervariasi namun rata-rata yang digunakan adalah mesin engine dengan kekuatan 40 PK. Dalam keadaan darurat maka speed boat adalah kendaraan satu-satunya yang dapat digunakan oleh penduduk untuk menjangkau kampung-kampung di sepanjang sungai Mamberamo, ataupun untuk menjangkau kabupaten terdekat seperti Sarmi.
KM Marthen Indey memiliki jadwal pelayaran 2 minggu sekali. Kapal ini tidak dapat merapat sampai ke Kasonaweja. Pelabuhan terkahir yang dapat dijangkau adalah Kampung Trimuris, itu berarti bagi penduduk yang tinggal di Kasonaweja harus melanjutkan perjalanan dengan menggunakan speedboat untuk sampai ke Kasonaweja. Perjalanan ini tentunya menyerap energy, sumber daya dan dana yang cukup besar.
![]() |
| Gambar 2. Kampung Bagusa pada tahun 2018 (Tampak Kapal Lestari Permai) |
Dalam perkembangannya, kini terdapat 3 kapal laut yang telah dapat
melayani kebutuhan masyarakat dengan harga yang terjangkau. 3 kapal tersebut
adalah KM. Fajar Indah, KM. Cantika
Lestari, dan KM. Lestari Permai (jenis Kapal Perintis). Peran
ketiga kapal ini cukup sentral tidak hanya untuk melayani kebutuhan mobilisasi
penduduk dan barang namun dampak positif lainnya adalah meningkatnya aktifitas
perekonomian. Hal ini dapat dilihat pada saat ketiga kapal ini merapat pada
tiap dermaga pada tiap kampung, banyak masyarakat / penduduk local yang
kemudian menjajakan produk olahan pangan. Setidaknya aktivitas ini dapat
menambah pendapatan dan sedikit meningkatkan geliat ekonomi masyarakat.
![]() |
| Gambar 3. Teba pada tahun 2012 |
![]() |
| Gambar 4. Teba pada tahun 2018 (aktivitas pelabuhan saat kapal merapat di Dermaga) |
Teba adalah salah satu wilayah yang sering disinggahi kapal. Berhadapan
dengan pelabuhan Teba terdapat kampung Warembori. Kampung Warembori adalah
kampung yang telah lama ada, setelah tahun 2012, kini telah nampak beberapa
deretan rumah yang telah dibangun oleh pemerintah di sepanjang wilayah Teba.
Deretan rumah ini menambah pesona dan keindahan di daerah muara sungai
Mamberamo. Selain Teba, tampak perubahan juga terjadi di Kampung Bagusa. Kampung
Bagusa adalah salah satu tempat persinggahan kapal. Pada tahun 2012, penulis
sempat singgah di tempat ini. Aktivitas pasar di kampung ini tampak kurang
berkembang, namun pada tahun 2018, pasar di kampung ini tampak terdapat
perubahan. Salah satu perubahan yang tampak adalah bangunan pasar semi permanen.
Bangunan pasar ini tampak baik dan sangat menunjang aktivitas jual-beli.
Beberapa produk yang dijual antara lain makanan siap saji (papeda+ Ikan kuah), sagu,
keladi rebus dan beberapa jenis makanan lainnya. Selain makanan siap saji,
tampak pula beberapa masyarakat menjual ikan segar dan ikan asin. Ikan segar yang dijual cukup bervariasi mulai
dari jenis ikan mujair, ikan kakap, ikan sembilan dan beberapa jenis ikan lainnya
yang hidup di perairan sungai Mamberamo. Sementara ikan asin yang dijual
masyarakat rata-rata dibuat dari ikan jenis mujair. Ukuran ikan mujair dijual
di sepanjang sungai Mamberamo rata-rata memiliki ukuran yang lebih besar
dibandingkan rata-rata ukuran ikan mujair yang dijual di wilayah Jayapura.
![]() |
| Gambar 5. Kampung Teba dan Warembori, Distrik Mamberamo Hilir |
Selama 6 tahun, sejak tahun 2012 terdapat perubahan di beberapa wilayah kampung di sepanjang aliran sungai Mamberamo (terutama di daerah hilir). Perubahan ini tentunya diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat, terutama dalam memanfaatkan potensi sumber daya alam di sepanjang aliran sungai Mamberamo.





No comments:
Post a Comment