Pages

Kampung Sikari, Distrik Roufaer






Gambar 1. Tampak Pemukiman warga di Kampung Sikari 
Dalam tulisan ini, penulis akan sedikit memperkenalkan kepada pembaca pada salah satu wilayah di sepanjang sungai Mamberamo. Sungai Memberamo paling banyak dikenal, oleh karena itu penulis mungkin tidak perlu banyak bercerita tentang sungai Mamberamo. Namun yang menarik disini adalah bagaimana mengenal pola hidup masyarakat  di sepanjang aliran sungai ini, dan salah satu lokasi yang sempat penulis kunjungi adalah Kampung Sikari,  yang terletak di distrik Roufaer.

Untuk sampai ke wilayah ini, dapat ditempuh dengan 2 cara yaitu dengan pesawat atau perahu motor. Penggunaan pesawat amat jarang, itupun kalau dipaksakan sebaiknya perjalanan dilakukan dari Jayapura menuju distrik Mamberamo Hulu yang beribu kota  di Dabra. Setelah tiba di Dabra kemudian dapat melanjutkan perjalan menggunakan perahu motor. Cara lain dengan mengunakan pesawat adalah terbang dari Jayapura ke Kasonaweja. Setelah tiba di Kasonaweja perjalanan dilanjutkan dengan perahu motor menuju Sikari. Perjalanan diatas jika menggunakan pesawat udara, namun sensasi selama perjalanan akan berbeda, sebab jika melalui Kasonaweja maka ditengah menyusuri sungai Mamberamo, terdapat 2 titik lokasi aliran sungai yang dapat memacu adrenalin kita, yaitu Marina Vallen dan Edi Valen. 2 Tempat ini cukup memberikan sensasi bagi para petualang arung jeram, walaupun sedikit beresiko, oleh karena itu perlengkapan life jacket perlu disiapkan untuk berjaga-jaga.  Jika jalur penerbangan melalui Dabra, maka sensai perjalanan akan sedikit lebih tenang, sebab sepanjang aliran sungai dari Dabra menuju Sikari relatif tenang.  
Kita kembali pada cerita kita tentang Kampung Sikari. Kampung Sikari terletak Distrik Roufaer, Kabupaten Mamberamo Raya. Distrik Roufaer memiliki luas wilayah mencapai  2.633,38 Km².  Selain Sikari, Distrik Roufaer memiliki 5 kampung lain yaitu Kai,  Haiya, Bareri, Tayai dan Fona. Letak Ibu kota Distrik Roufaer di Kampung Kai, walaupun demikian jika menempuh perjalanan menyusuri sungai Mamberamo, sepertinya kampung Sikari yang sedikit lebih sesuai jika dijadikan ibu kota distrik Roufaer. Pendapat ini tentunya berdasarkan opini penulis dan disesuaikan dengan kemudahan dalam mengakses kampung ini, walaupun demikian penetapan ibu kota distrik adalah hak mutlak masyarakat setempat.


Gambar 2. Tampak anak  dari kampung lain yang bersiap berganti pakaian untuk ke sekolah 


Gambar 3. Bandar Udara Kampung Sikari tampak dari atas

Distrik Roufaer memiliki Batas-batas administrasi  yaitu :  Sebelah Utara berbatasan dengan Distrik Mamberamo Tengah Timur dan Distrik Waropen Atas; Sebelah Timur berbatasan dengan Distrik Mamberamo Hulu; Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Mamberamo Tengah,
dan Sebelah Barat berbatasan dengan  Kabupaten Mamberamo Tengah. Sebagian besar kampung di Distrik Roufaer dapat diakses dengan menggunakan alat transportasi sungai seperti speed boat dan perahu bermotor. Dari 6 kampung yang ada distrik Roufaer, kampung Sikari adalah kampung terluar yang paling mudah diakses karena letak kampung ini tepat berada pada aliran utama sungai Mamberamo.


Kampung Sikari dapat dikatakan juga sebagai  batas antara arus deras dan arus tenang Sungai Mamberamo. Arus deras sungai Mamberamo didasarkan pada kondisi topografi dan geologi disepanjang badan dan pinggiran sungai Mamberamo. Setelah melewati 2 titik arus deras aliran sungai Mamberamo yang disebutkan diatas (Marina Vallen dan Edi Valen),  maka kampung pertama yang akan kita jumpai adalah Kampung Sikari.
Kampung ini memiliki masyarakat dengan pola kehidupan sederhana. Sebagian besar masyarakat bermatapencaharian sebagai petani dan nelayan. Sebagai petani maka jenis komoditi tanaman pangan yang umumnya diusahakan  adalah ubi kayu, ubi jalar, keladi, pisang, dan kacang tanah. Kemampuan produksi komoditi hortikultura masih rendah dan terbatas karena hanya diusahakan dengan memanfaatkan luasan pekarangan yang tersedia. Hal ini menyebabkan hasil produksinya diperuntukkan terutama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.    Pinang adalah tanaman perkebunan yang paling sering ditemui di halaman warga di kampung ini selain pisang, ubi kayu, ubi jalar dan jenis tanaman sayuran lainnya.  Pinang selain untuk konsumsi keluarga  merupakan salah satu sumber pendapatan keluarga dengan kisaran harga jual  antara Rp. 150.000-200.000 per hoki/mayang.  

Gambar 4. Tampak Bangunan Pasar di kampung Sikari
Di Kampung Sikari terdapat 1 unit bangunan pasar disertai bangunan besar menyerupai gudang. Menurut informasi aktifitas di pasar ini tidak rutin setiap hari, hanya hari-hari tertentu dimana masyarakat dari beberapa kampung akan datang dan melakukan aktivitas jual-beli. Sayangnya bangunan besar menyerupai gudang tampak tidak terawat, walaupun gudang ini tampaknya biasa digunakan oleh masyarakat dari kampung lain sebagai tempat tinggal sementara untuk melanjutkan perjalanan pulang ke kampung mereka. Di depan gudang tempak beberapa los diserta meja-meja panjang permanen yang biasanya digunakan masyarakat untuk meletakan barang jualan mereka.   
Suasana di kampung ini akan tampak lebih dinamis ketika melihat anak-anak usia sekolah dasar mendayung perahu mereka. Beberapa dari mereka berasal dari kampung di sekitar Kampung Sikari. Tiap pagi mereka harus menggunakan perahu dengan pakaian seadanya, tampaknya pakaian seragam sekolah disimpan dalam tas. Setelah tiba di kampung Sikari, anak-anak ini kemudian mengganti pakaian mereka dengan pakaian seragam.  Di ujung kampung Sikari terdapat lapangan pesawat perintis yang digunakan sebagai tempat bermain dan lapangan volly. Landasan lapangan pesawat perintis ini masih  berupa rumput, dan belum ada penerbangan pesawat secara reguler, dan tampaknya jika ada pesawat yang mendarat di kampung ini paling tidak pesawat tersebut di carter dengan biaya yang cukup mahal.


Gambar 5. Arus tenang sungai Mamberamo dan keindahan Panorama Kampung Sikari

Demikian sekilas tentang kampung Sikari. Tidak banyak kesempatan yang dapat diperoleh oleh semua pembaca untuk mengunjungi tempat-tempat eksotis seperti ini, namun jika sempat, cobalah berkunjung ke kampung Sikari, sambil menikmati indahnya senja dan pemandangan alang-alang di pinggiran sungai Mamberamo. Suasana tenang dan damai akan terasa ketika ketika mata hari mulai terbenam atau terbit.   
    

No comments:

Post a Comment